Minggu, 30 Desember 2012

Praktek Pranayama

Praktek Pranayama bisa disertai Pranava Japa atau dengan Gayatri Mantram. Bila menggunakan Pranava Japa, pengaturan nafas dilakukan dalam tiga tahapan saja, yaitu:
  1. Menarik Nafas (Puraka)
  2. Menahan Nafas (Antah Kumbhaka)
  3. Menghembuskan Nafas (Recaka)
Pada waktu menahan nafas saat kosong, setelah menghembuskan nafas (Bahih Kumbhaka) dibiarkan saja kosong tanpa pelafalan dalam hati (manasu).
Pelafalan sebagai berikut:
  1. Lafalkan dalam hati suara A(ng) saat menarik nafas (Puraka), bayangkanlah Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta yang penuh anugerah.
  2. Lafalkan dalam hati suara U(ng) saat menahan nafas (Antah Kumbhaka), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara yang penuh dengan cinta kasih.
  3. Lafalkan dalam hati suara M(ang) saat menghembuskan nafas (Recaka), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Suci, pelebur segala kekotoran batin dan dosa-dosa.

Bila menggunakan Gayatri Mantram, pengaturan nafas dilakukan dalam empat tahapan, yaitu:
  1. Menarik Nafas (Puraka), sambil melafalkan dalam hati OM – Bhur – Bhvah – Svah
  2. Menahan Nafas (Antah Kumbhaka), sambil melafalkan dalam hati Tat – Savitur – vare – niyam
  3. Menghembuskan Nafas (Recaka), sambil melafalkan dalam hati Bhargo – devasya – dimahi
  4. Menahan Nafas (Bahih Kumbhaka), sambil melafalkan dalam hati Dhiyo – yonah – pracodayat
Kedua praktek ini adalah yang paling praktis dan paling umum dilakukan oleh berbagai kalangan dan tingkatan penekun. Baik Pranayama dengan Japa tiga tahapan maupun empat tahapan, ada yang menyertai dengan penghitungan bulir-bulir tasbih (japa mala). Namun, bagi sementara penekun yang merasakan ini sebagai kurang praktis dan mencolok (terutama kalau sedang berada di tempat-tempat umum), bisa menggunakan nafasnya langsung sebagai tasbih (japa mala). Yang manapun yang dipilih, hendaknya disesuaikan dengan kondisi, kepentingan dan kebiasaan masing-masing, agar ia dapat dipraktekkan dengan santai, tanpa ketegangan yang tak perlu. Ingat, tujuan utamanya adalah membersihkan atau menentramkan vritti.
Dengan mempraktekkan pengaturan nafas ini seorang sadhaka bisa memperoleh umur panjang. Seorang lelaki sehat bernafas 14 sampai 16 kali dalam semenit. Pengurangan frekuensi nafas melalui latihan pranayama, meningkatkan ketahanan paru-paru. Konon, semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini. Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja. Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun.
Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun. Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun. Yang lebih rendah lagi adalah ular. Ular hanya bernafas 2 sampai 3 kali per menit. Ular umurnya bisa 500 sampai 1000 tahun.
Frekuensi nafas juga ada kaitannya dengan kehidupan spiritual. Semakin sedikit nafsu keinginan seseorang, semakin rendah frekuensi nafasnya, demikian juga sebaliknya. Bagi yang mempraktekkan japa, meditasi dan mempelajari kitab-kitab spiritual-religius/kitab-kitab suci, akan mempunyai frekuensi nafas yang lebih rendah dan mempunyai konsentrasi yang lebih baik. Semakin rendah frekuensi nafas seseorang, juga berarti semakin meningkat konsentrasinya dan lebih tenteram hidupnya.
Jadi,semakin jelas bahwa pengaturan nafas bukan saja berkait dengan kesehatan dan umur seseorang, namun terbukti memang memungkinkan konservasi serta pengaturan daya-vital yang baik hingga amat kondusif dalam pengembangan batin. Yang paling perlu diperhatikan baik-baik adalah latihan yoga —jenis apa saja— harus dibawah bimbingan seorang Guru yoga yang handal, berpengalaman dan terpercaya.Yang pasti, yoga tidak mungkin dipelajari hanya lewat buku-buku saja.
Wrhaspati Tattwa memberi petunjuk: “Tutup semua lubang yang ada dalam tubuh, seperti: mata, hidung, mulut, telinga. Udara yang sebelumnya telah terisap, itu dikeluarkan melalui ubun-ubun”. Bila tidak terbiasa mengeluarkan udara melalui jalan itu, udara dapat dikeluarkan melalui hidung, namun secara perlahan-lahan. Itulah yang disebut Pranayama Yoga.”
Seorang Guru pernah mengingatkan siswanya, “Gunakanlah nafasmu sebagai pegangan; dengan demikian pikiranmu dengan mudah kamu pusatkan. Pranayama akan amat membantumu dalam mencapai Samãdhi”.
Chandogya Upanishad mengilustrasikan: “Bagai burung yang diikat dengan tali; setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, ia akan kembali untuk beristirahat, justru pada tempat dimana ia terikat; begitu pula pikiran, setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, akan kembali beristirahat pada nafas, karena pikiran punya nafas sebagai pengikatnya.”


sumber : http://www.hindu-dharma.org/2012/08/praktek-pranayama/

Sabtu, 29 Desember 2012

Beragama yang Sederhana

Oleh:  Prabu Darmayasa
Kita jarang menyadari bahwa agama itu ke dalam, ada didalam, ya didalam hati, didalam jiwa, didalam roh kita. Biasanya kita menganggap yang agama itu adalah kalau kita “meriah-meriahan” di luar. Bahwa agama itu kalau yang ada kegiatan bebanten di luar. Bahwa agama itu kalau ada mantram-mantram dengan penyesuaian suara genta.
Bahwa agama itu kalau kita mengirim “Juru Arah” pergi ke rumah-rumah mengumumkan ada kegiatan ini itu di pura ini atau itu, ada acara nampah ini dan itu, — ya seperti itulah agama.
Bahwa yang namanya agama itu kalau kita bersama-sama dan beramai-ramai “menyetujui” aktivitas tertentu yang kita “poleskan” agama.
Bahwa agama itu kalau datang dari lembaga Parisada atau dari kantor agama.
Bahwa agama itu adalah kitab suci.
Bahwa agama itu adalah ada acara nampah, ada tarian rejang, ada pemasangan umbul-umbul.
Bahwa agama itu kalau kita berdiskusi kitab-kitab suci dan lontar-lontar, dan lain-lain, dan lain-lain.
Jarang kita secara sadar bersedia menerima bahwa agama itu berarti aktivitas mental spiritual ke dalam, karena agama itu ada didalam, ada di jiwa kita, ada di roh kita.
Jarang kita bersedia menerima bahwa agama berarti kita “menghitung” diri kita terlebih dahulu sebelum memulai hitungan terhadap orang lain.
Bahwa kita yang pertama harus ber”agama”,
bahwa kita yang pertama “berubah”,
bahwa kita harus melihat diri kita ada perubahan ke arah yang lebih baik, hari demi hari.
Mengenai orang lain, kita tidak ada hak dan sebaiknya tidak melihat apa dan bagaimana mereka. Sebab, sebelum kita memulai didalam, memulai ke dalam, memulai dari dalam, maka selama itu kita akan GAGAL memperbaiki orang lain, kita akan gagal melihat seperti apa yang ingin kita lihat didalam diri orang lain atai didalam masyarakat.
Pertanyaan pertama untuk diri kita sendiri mungkin HARUS disampaikan setiap hari, yaitu “Sudahkan saya mengingat/menyebut nama Narayana, Mahadeva …setiap pagi begitu saya bangun tidur?”
Pernah saya menekankan cara simple ini kepada puluhan orang. Tetapi, setelah berkali-kali memberikan penekanan, ketika saya tanya siapakah yang tekun mempraktekkannya, ternyata yang angkat tangan hanyalah 2 orang.
Ya…, hanya dua orang saja…. Hal itu menunjukkan bahwa masih sedikit diantara kita memberikan perhatian secara jujur pada praktek melainkan lebih menyukai “kesimpangsiuran” aturan peraturan agama, yang sering seberangan banjar telah berubah, tidak memiliki kesamaanm dan bahkan barangkali bertolak pinggang ehhhh …bertolak belakang…
Saya memiliki keyakinan kuat, bahwa perhatian pada praktek pribadi harus lebih dipentingkan, oleh kita semua tanpa terkecuali, dengan jujur dan berdisiplin diri, yang tidak usah orang lain tahu terhadap apa yang sedang kita lakukan. Praktek sederhana itu kita inginkan hanya dilihat oleh diri kita sendiri, hanya oleh kita, sebab ia harus DARI DIRI OLEH DIRI UNTUK DIRI.
Jika kita memperhatikan dengan teliti, ternyata banyak aturan-peraturan agama di masyarakat yang tidak sejalan dengan kitab suci, dan ia berperan keras dalam membuat kita menjadi malas untuk praktek sederhana, yang menyebabkan kita tidak suka beragama kedalam sebab lebih suka sibuk dalam aturan peraturan yang tidak memiliki kepastian sumber bonafid.
Postingan saya ini ada nada mementingkan sesuatu, bahwa dari sekian banyak Semeton HDnet yang membaca postingan ini, saya mengharapkan hanya seorang saja yang akan bertekad menerapkan disiplin bagun tidur menyebut nama Tuhan ini…., bukan untuk satu dua tahun, melainkan untuk seumur hidup….Sarve sukhinah bhavantu…semoga semua berbahagia…

sumber: http://www.hindu-dharma.org/2010/09/beragama-yang-sederhana/

KADERISASI HINDU MELALUI DHARMA WACANA DAN DHARMA TULA



Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Yowana Brahma Vidya
Undiksha Masa Bakti 2012/2013

            Bertempat di Gedung Auditorium Kampus Tengah Undiksha, KMHD Yowana Brahma Vidya masa bakti 2012/2013 melaksanakan kegiatan Dharma Wacana dan Dharma Tula pada hari Kamis, 18 Oktober 2012. Tema yang diangkat pada kegiatan ini yakni “Dharma Wacana dan Dharma Tula KMHD YBV UNDIKSHA Tahun 2012, Keagungan dan Inti Sari Bhagavad Gita sebagai Refleksi dalam Kehidupan” dengan Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa sebagai narasumbernya.
            Pembukaan diawali dengan Doa, dilanjutkan dengan laporan ketua panitia dan pembukaan acara secara resmi oleh Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M.Pd. selaku Pelindung KMHD YBV Undiksha yang juga merupakan Rektor Undiksha. Acara pembukaan mengalami keterlambatan selama 30 menit. Hal ini disebabkan karena keterlambatan kedatangan para undangan dan narasumber. Setelah dibuka secara resmi yang ditandai dengan pemukulan kentongan, acara dilanjutkan dengan Dharma Wacana dan Dharma Tula dimana yang menjadi moderator adalah Bapak I Dewa Gede Budi Utama, S.Pd. yang merupakan salah satu penasihat dari KMHD YBV Undiksha.
            Meskipun tidak sesuai dengan susunan acara, namun kegiatan Dharma Wacana dan Dharma Tula yang dibawakan oleh Bapak Prabu Darmayasa berlangsung dengan baik dan lancar. Dengan pengantar dari moderator sebagai stimulus, ratusan peserta acara Dharma Wacana dan Dharma Tula antusias menyimak. Bapak Prabu Darmayasa menjelaskan bahwa setiap BAB di dalam kitab Bhagavad Gita memiliki keagungan masing-masing. Ataupun setiap sloka-sloka yang ada di dalamnya masing-masing mempunyai keagungan. Kemudian inti sari dari Bhagavad Gita adalah terletak pada setiap sloka yang ada di dalamnya. Lebih dispesifikkan lagi oleh Prabu yaitu inti sari Bhagavag gita itu tersirat lebih mendalam pada BAB II tentang Sankhya Yoga pada BAB ke-66 sampai 68. Namun, pada saat mengakhiri wejangannya, Prabu kembali menegaskan bahwa setiap sloka pada Bhagavad Gita merupakan inti sari dari Bhagavad Gita. Prabu juga menyisipkan bahwa rahasia dari ajaran Bhagavad Gita adalah berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
            Diiringi alat musik berupa piano, 400 orang peserta diajarkan melantunkan beberapa Sloka oleh Bapak Prabu Darmayasa. Hal ini memberikan pengalaman yang berharga kepada para peserta. Karena cara melantunkan sloka yang diajarkan sangat mengenakkan dan mudah di ingat. Beliau sengaja membuat sendiri cara melantunkan sloka Bhagavad Gita agar lebih menarik dan para pemuda tertarik untuk mempelajari Bhagavad Gita. Situasi ini mampu membangkitkan antusias peserta untuk lebih bersemangat mengikuti acara, walaupun sudah berlangsung selama 2 jam.
            Semakin lama berjalannya acara peserta Dharma Wacana dan Dharma Tula semakin tertarik dengan pengampaian Prabu yang bervariasi (salah satunya menggunakan cerita dan variasi volume suara). Keantusiasan peserta terlihat dengan banyaknya minat peserta ingin bertanya kepada Narasumber. Pertanyaan dari peserta sangat bervariasi, mulai dari salam “Om Swastyastu”, filsafat, tata susila dan yang lain-lainnya sesuai dengan Kitab Suci. Semua pertanyaan peserta ditanggapi dengan paparan yang jelas. Sehingga peserta merasa puas akan feed back yang diberikan oleh Bapak Prabu Darmayasa.
            Selama tiga setengah jam acara sudah berjalan, namun para peserta masih banyak yang ingin bertanya. Karena waktu sudah larut malam, maka moderator segera mengakhiri acara Dharma Wacana dan Dharma Tula. Sebagai pengujung berakhirnya acara, di sampaikan bahwa sudah sangat wajar sekali di zaman ini para pemuda sudah mempunyai dan mulai membiasakan belajar untuk membaca Kitab Suci. Tidak hanya terbatas pada kalangan pemuda, tetapi semua kalangan hendaknya membiasakan mempelajari dan sudah memiliki kitab suci dirumahnya masing-masing. Dengan demikian, maka diharapkan ada perubahan secara besar-besaran menuju ke arah yang lebih baik dan damai.
Kegiatan Dharma Wacana dan Dharma Tula ini ditutup oleh Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M.Pd. selaku pelindung KMHD YBV Undiksha pada pukul 22.00 Wita. Dilaksanakannya Dharma Wacana dan Dharma Tula ini diharapkan dapat dijadikan sebagai wadah seluruh Civitas Hindu Undiksha untuk memperdalam pemahaman ajaran agamanya sehingga diharapkan akan menjadi pilar penguat dalam membentuk kader-kader Hindu yang religius, humanis, dan progresif.