Jumat, 07 Desember 2012

Solusi Sederhana bagi Konflik


Tragedi kekerasan antarwarga kembali terjadi. Minggu, 28 Oktober 2012 pukul 09.30 WIB di desa Sidorejo kecamatan Sidomulyo kabupaten Lampung Selatan, telah terjadi bentrokan antara warga suku Lampung dan warga suku Bali (polri.go.id).
Betapa mirisnya mendengar hal tersebut terjadi. Negara Indonesia yang notabene Negara Ketuhanan, yang memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa” seharusnya tidak menjadikan perbedaan sebagai pemicu suatu konflik. Namun usangnya rasa toleransi, tenggang rasa, saling menghargai dan menghormati menyebabkan konflik mudah menderai. Tidak hanya Lampung, daerah lainpun sudah terkontaminasi dengan adanya konflik. Ini menandakan, bangsa Indonesia perlu melakukan refleksi diri. 67 tahun berada dalam kemerdekaan, bukannya semakin mempererat persatuan tapi malah memperlemah persatuan. Itu terbukti dari adanya berbagai konflik yang muncul di setiap daerah. Padahal, penyebabnya hanyalah hal sepele. Dimana makna Sumpah Pemuda yang dikumandangkan pada 28 Oktober 1928 silam?
Karakter adalah keunikan, yang menjadi pembeda bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan global. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang berkarakter kuat, menjunjung tinggi sopan santun, dan gotong royong. Dengan karakternya yang kuat, bangsa ini mampu melepaskan diri dari penjajahan walaupun bersenjatakan bambu runcing. Gotong royong dahulu telah mendarah daging, sehingga tercetus dalam Pancasila sila ke-3 (Persatuan Indonesia) dan sopan santun, rasanya orang asing juga sudah lama memberi tag ini kepada bangsa kita. Namun, saat ini fakta berkata lain. Karakter bangsa Indonesia yang tercermin dalam Pancasila hanyalah isapan jempol belaka. Seolah-olah buta akan kebersamaan dan kekeluargaan. Ini sesuai dengan pendapat Soedarsono (2008) yang mengatakan bahwa karakter bangsa Indonesia yang selama ini kita kenal ramah tamah, gotong royong, sopan santun, sekarang berubah dengan penampilan yang nyaris disamakan dengan penampilan yang arogan, cenderung menampilkan kekerasan yang berujung anarkis. Bahkan bangsa ini juga layak dikatakan “mudah diadu domba”.
Berbagai fakta tersebut tidak terlepas dari adanya pengaruh globalisasi. Tantangan yang kita hadapi adalah bagaimana kita mampu mempertahankan karakter bangsa kita agar persatuan dan kesatuan bangsa dapat kokoh berdiri meski di derai badai sekaligus (globalisasi). Disilah peran pendidikan karakter sebagai solusi sederhana dalam mengatasi hal tersebut. “Pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal juga perlu dalam mengatasi arus globalisasi. Dimana kita harus selektif dan didasari oleh tiga aspek, yakni adaptasi, revitalisasi, dan selektivitas agar sesuai dengan perkembangan zaman sehingga pendidikan karakter mampu menjawab tantangan globalisasi, khususnya bagi para remaja”,ujar Dekan FIS, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A. (Indra)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar