Kamis, 06 Desember 2012

KELUARGA


Saya tidak sengaja menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga; saya tidak melihat anda.” Orang tak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal. Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.
Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. Minggir!” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu”
Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu;merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu”
Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun nak, bangun” kataku.
Apakah bunga ini engkau petik untukku?” ia tersenyum. “Aku menemukannya jatuh dari pohon, aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti ibu. Aku tahu ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.” Aku berkata, “Anakku, ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi”
Si kecilku berkata “Oh, ibu tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” Aku pun membalas, “Anakku aku juga mencintaimu, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang berwarna biru.”
Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? Jadi apakah anda telah memahami tujuan cerita di atas?                                                                       
AOI D.

Terima Kasih



Kau membantuku
Ku bilang terima kasih
Kau menghinaku
Ku bilang terima kasih
Kau memujiku
Ku bilang terima kasih
Kau menusukku dari belakang
Ku bilang terima kasih
Kau hargai aku atau tidak
Ku bilang terima kasih
Kau anggap aku apapun
Ku bilang terima kasih
Kau anggap aku sahabat
Ku bilang terima kasih
Kau bilang aku tak peduli
Ku bilang terima kasih
Meski air susu kau balas dengan air tuba,
Ku bilang terima kasih
Terima kasih, terima kasih dan terima kasih…
Satu hal yang selalu kuucapkan
Karena apapun yang kita alami dalam hidup ini
Merupakan suatu anugerah yang patut kita syukuri

Iin_

PESAN PERDAMAIAN UNTUK KEBHINEKAAN NKRI


Terik matahari yang membakar bumi, tak menyurutkan semangat para pengurus KMHD YBV Undiksha untuk bergerak bersama demi satu tujuan. Setelah mendapat arahan dari ketua KMHD YBV Undiksha, Senin, 5 November 2012 secara serentak pengurus KMHD YBV Undiksha menyebar di lingkungan kampus (lingkungan tengah dan bawah). Kegiatan ini bertujuan untuk menggalang dana punia dari civitas akademika yang nantinya ditujukan kepada korban kerusuhan di Lampung Selatan.
Selain untuk menggalang dana punia, tentu ada hal lain yang pengurus peroleh. Melalui kegiatan ini pengurus dapat melatih soft skills, salah satunya bagaimana berkomunikasi dengan baik. “Menurut tiang, kegiatan ini sangat bagus. Selain menggalang dana punia untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan, kita juga bisa belajar bersosialisasi bagaimana caranya kita menggalang dana kepada orang-orang dengan sopan dan tidak menyinggung perasaan orang tersebut”, kata Ni Kadek Desi Dwiyantari yang merupakan salah satu pengurus yang ikut serta dalam kegiatan ini.
Antusiasme civitas akademika untuk menyisihkan sedikit rezeki yang dimiliki sangatlah tinggi. Bukan hanya dari kalangan mahasiswa, warga Undiksha (dosen, pegawai dan staff TU) ikut berdana punia. Apapun bentuk dana punia yang diberikan bukan menjadi persoalan karena yang terpenting dalam hal ini adalah keikhlasan hati dan harapan yang tulus dari warga Undiksha agar perdamaian di lampung selatan segera terealisasi, secara mendalam juga gerakan ini mampu menjadi “genta” pengingat kita untuk terus menjaga perdamaian NKRI. Ni Kadek Tariani yang merupakan salah satu puniawati memberikan apresiasi positif terhadap pelaksanaan kegiatan ini. “semoga dengan sedikit dana punia dari saya ini, bisa membawa pesan perdamaian kepada seluruh warga yang ada di Lampung Selatan.”
Jumlah dana yang terkumpul dari kegiatan ini sekitar 4 juta rupiah. Dana punia yang telah terkumpul ini segera dikirim untuk korban kerusuhan di Lampung melalui DPRD Kabupaten Buleleng. Mereka tidak melihat siapa yang benar ataupun siapa yang salah, dalam hal ini dana punia yang terkumpul tersebut bukan hanya diperuntukkan bagi warga Bali Nuraga tetapi juga korban warga Lampung, yang jelas saudara sebangsa kita sedang berduka. Dengan sedikit uluran tangan dari seluruh Warga Undiksha, diharapkan dapat mengurangi beban para korban bentrokan Lampung Selatan. Perbedaan-perbedaan yang kita miliki janganlah dijadikan alasan kita untuk saling benbenturan. Jika negara ini bisa kita anggap sebagai sebuah bilangan, mari kita jadikan bilangan tersebut berpangkat nol sehingga menghasilkan sebuah bilangan yakni satu (1). Bersatu untuk mencapai satu tujuan bersama. Meskipun perbedaan-perbedaan yang ada sangat banyak, namun tentu perbedaan itu akan menjadi indah bila kita bisa memaknainya seperti semboyan luhur kita “Bhineka Tunggal Ika”.

                                                                                                   By: 51