Tampilkan postingan dengan label kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kegiatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2015

Rumah Kita


Liburan panjang nyatanya menyebabkan kondisi sekretariat kita cukup memprihatinkan. Ditambah lagi angin kencang yang melanda daerah Buleleng, cukup membuat kondisi sekretariat KMHD berantakan. 



Akhirnya kami mencoba untuk menjalankan proker yang kita sepakati yaitu melaksanakan pembersihan secara berkala. Yup, kita adalah sebuah keluarga, jadi sekretariat kita adalah rumah kita. Untuk menjaga kenyamanan di rumah kita adalah tanggung jawab kita bersama. 

Dengan kondisi liburan panjang pasca hari raya, banyak rekan-rekan pengurus yang memilih untuk tetap berada di kampung halaman tercinta menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, sahabat, pacar (quality time gitu ceritanya hehe). Jadi, cukup sulit mengumpulkan seluruh pengurus untuk berpartisipasi dalam pembersihan sekretariat kali ini. Selasa, 21 Juli 2015 pukul 14.00 wita kami mulai melakukan pembersihan bersama. Meskipun pembersihan kali ini hanya dihadiri beberapa pengurus KMHD YBV Undiksha yang sedang berada di Singaraja, tetapi kami tetap semangat untuk menjaga kenyamanan di rumah ini. 


Pembersihan dimulai dengan merapikan dan menata kembali barang-barang di sekretariat yang terlihat berantakan. Membersihkan karpet yang berdebu, menyapu lantai, kemudian membersihkan papan – papan yang terpasang di dinding. 
Papan agenda kegiatan, papan pengumuman (papan dengan kondisi paling parah penuh lem dan selotip), papan peminjaman alat kami bersihkan dengan berbagai cara (tadinya sih mau pake bensin atau tinner, tapi karena harus mengefisiensikan biaya jadi kami pilih alternatif dengan menggunakan pasta gigi hahaha). Akhirnya papan – papan itu pun bersih dan rapi *horrreee*. 

Kemudian, kita lirik kembali kondisi papan gabus pengumuman KMHD. 


Kondisi papan gabus ini sangat memprihatinkan. Ujung gabusnya patah dan hiasannya juga lepas. Kebetulan dibelakang papan gabus pengumuman itu masih ada gabus yang tersisa, jadi kami memikirkan cara untuk memperbaiki papan tersebut dengan memanfaatkan bahan yang ada. *Tarrraaaa* Akhirnya selesai dan papan gabus pengumuman KMHD terlihat bersih dan rapi *yippy*

Dan pada akhirnya rumah kita terlihat lebih bersih, nyaman, dan rapi. Tetap dijaga ya kawanku ^^

Rabu, 23 Januari 2013

MAMPUKAH PARA GENERASI MUDA HINDU?


Antusiasme, itulah suasana yang tergambar ketika mahasiswa Hindu Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali menyimak Dharma Wacana dari Bapak Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Republik Indonesia, Prof. Dr. Ida Bagus Yudha Triguna, MS. Suasana seperti ini merupakan kesempatan langka bagi kami, mahasiswa Undiksha. Ditengah kesibukannya yang begitu padat, beliau meluangkan waktu untuk memberikan kami motivasi melalui Dharma Wacana yang bertemakan “ Tantangan Generasi Muda Hindu Masa Depan”. I Wayan Eka Swarjawa selaku ketua KMHD YBV Undiksha mengakui bahwa kedatangan beliau sungguh merupakan suatu kehormatan sekaligus keberuntungan. Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Yowana Brahma Vidya (KMHD YBV) Undiksha yang merupakan penyelenggara acara berupaya maksimal untuk membuat beliau bisa hadir ke Undiksha untuk memberikan beberapa patah kata sebagai motivasi bagi generasi muda Hindu. Hal ini juga diakui oleh Rektor Undiksha yang sekaligus sebagai pelindung KMHD YBV Undiksha, Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M.Pd. yang pada sambutannya dalam acara ini mengatakan bahwa mampu menghadirkan Bapak DIRJEN sebagai narasumber dalam Dharma Wacana merupakan sebuah prestasi dan usaha yang patut untuk dibanggakan. Dalam kesempatan ini, Bapak DIRJEN juga secara langsung membuka Lomba Cerdas Cermat Agama Hindu V Tingkat SMA/SMK se-Bali Nusra Tahun 2013 yang diselenggarakan oleh KMHD YBV Undiksha yang juga memperebutkan piala DIRJEN BIMAS Hindu Kementerian RI.

Di depan 500 peserta lebih, begitu banyak hal yang beliau sampaikan dalam Dharma Wacana selama kurang lebih 45 menit. Mengilustrasikan kisah Pandawa dan Korawa adalah salah satu cara beliau menyampaikan pesan kepada generasi muda Hindu. Pandawa yang dari segi kuantitas sangat kalah jauh dengan Korawa namun mampu membawa kemenangan di tangan mereka. Sesungguhnya, hal ini tidak terlepas dari kualitas yang dimiliki Pandawa seperti ilmu pengetahuan dan skill. Inilah kunci keberhasilan mereka yang sudah selayaknya dicontoh oleh para generasi muda. Memiliki tekat, usaha dan keahlian itulah yang harus dimiliki para generasi muda, tak terkecuali generasi muda Hindu. Disertai dengan beberapa kisah inspiratif yang dikemas dengan sedikit nuansa komedi membuat Dharma Wacana yang beliau sampaikan menjadi semakin menarik. Beliau juga menjadikan contoh perjuangannya dalam menuntun ilmu yang dimulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi yang beberapa tempatnya berada di Luar negeri. Kisah perjuangannya untuk pendidikan menjadikan kami para generasi muda semakin termotivasi untuk memahami dan juga meniru jejak positif beliau. 

Menitipkan pesan kepada generasi muda yang kelak akan menjalani masa-masa yang menantang adalah salah satu makna terdalam dari Dharma Wacana beliau. Mamakai istilah “busana” adalah cara menarik yang dikemukakan sebagai bahan dan bekal hidup para generasi muda Hindu kedepannya. Busana pertama adalah “busana orang kaya”, maksud busana orang kaya dalam hal ini adalah lascarya atau lebih dikenal dengan kata ikhlas. Bagaimana kita mampu menjalankan semua kewajiban dan tanggung jawab dengan ikhlas, tanpa beban ataupun keluhan. Kedua adalah “busana orang tua” yaitu senyuman. Orang tua yang selalu bersikap bijak tatkala menasehati sang anak tidak lupa membubuhkan senyum sebagai sebuah tanda kebijaksanaan dan kesabaran, itulah pula yang patut kita teladani dan amalkan sebagai generasi muda. Yang ketiga yaitu “busana orang besar” dalam hal ini yakni memaafkan. Sebuah tindakan yang mudah diucapkan, namun sangat jarang sekali diterapkan, itulah gambaran kata maaf yang terlihat pada generasi muda. Gejolak amarah dan dendam terkadang mengaburkan sebuah tindakan yang sesungguhnya jauh lebih mulia dan menenangkan yaitu kata maaf. Hal ini juga sangat terkait dengan “busana orang yang belajar tapa, yoga dan semadhi” yakni tidak cepat marah. Menyikapi berbagai hal dengan tenang, bijak dan kepala dingin sehingga jauh dari hal-hal yang mampu menimbulkan krodha atau kemarahan. Selanjutnya adalah “busana orang terpelajar” yang tak lain adalah kebijakan. Bijak dalam memikirkan segala hal, bijak dalam bertutur kata dan juga bijak dalam menentukan sikap. Busana yang terakhir adalah “busana orang yang menghargai” yakni mengakui adanya multikultural. Tidak pernah membangga-banggakan segala hal yang dimiliki ataupun menghina apa yang orang lain miliki. Mengakui bahwa semua yang orang percayai walaupun berbeda adalah semuanya baik. Seperti halnya agama, menjelek-jelekkan agama lain ataupun membangga-banggakan agama sendiri bukanlah cerminan menghargai. Namun, ketika mampu menyadari bahwa semua adalah bertujuan baik disanalah titik menghargai itu mampu diraih.

Begitu banyak hal dan contoh yang Bapak DIRJEN sampaikan disela-sela Dharma Wacananya. Pemahaman konsep yang diselaraskan dengan pengalaman-pengalaman yang menginspirasi adalah cara menarik yang beliau terapkan selama penyampaian Dharma Wacana yang berlangsung cukup singkat ini. Tidaklah penting kuantitas akan singkat panjangnya Dharma Wacana yang beliau sampaikan, namun lebih kepada kualitas isi, penyampaian dan internalisasi bagi para pendengarlah yang sesungguhnya jauh lebih penting. Dengan tujuan baik inilah beliau merelakan waktunya untuk berbagi kepada kami, para generasi muda yang kelak akan memimpin kehidupan Hindu dimasa depan. Bekal berupa nasihat, motivasi, ilmu dan cerita membangun yang disampaikan melalui Dharma Wacana ini sungguh bukan apa-apa jika pada akhirnya hanya menjadi angin lalu tanpa internalisasi dan implementasi yang berjalan searah dengan berbagai macam hal yang telah disampaikan dalam Dharma Wacana ini. 

 Oleh: Ni Luh Rani Anggraningsih-KMHD YBV UNDIKSHA
 

Sabtu, 29 Desember 2012

KADERISASI HINDU MELALUI DHARMA WACANA DAN DHARMA TULA



Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Yowana Brahma Vidya
Undiksha Masa Bakti 2012/2013

            Bertempat di Gedung Auditorium Kampus Tengah Undiksha, KMHD Yowana Brahma Vidya masa bakti 2012/2013 melaksanakan kegiatan Dharma Wacana dan Dharma Tula pada hari Kamis, 18 Oktober 2012. Tema yang diangkat pada kegiatan ini yakni “Dharma Wacana dan Dharma Tula KMHD YBV UNDIKSHA Tahun 2012, Keagungan dan Inti Sari Bhagavad Gita sebagai Refleksi dalam Kehidupan” dengan Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa sebagai narasumbernya.
            Pembukaan diawali dengan Doa, dilanjutkan dengan laporan ketua panitia dan pembukaan acara secara resmi oleh Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M.Pd. selaku Pelindung KMHD YBV Undiksha yang juga merupakan Rektor Undiksha. Acara pembukaan mengalami keterlambatan selama 30 menit. Hal ini disebabkan karena keterlambatan kedatangan para undangan dan narasumber. Setelah dibuka secara resmi yang ditandai dengan pemukulan kentongan, acara dilanjutkan dengan Dharma Wacana dan Dharma Tula dimana yang menjadi moderator adalah Bapak I Dewa Gede Budi Utama, S.Pd. yang merupakan salah satu penasihat dari KMHD YBV Undiksha.
            Meskipun tidak sesuai dengan susunan acara, namun kegiatan Dharma Wacana dan Dharma Tula yang dibawakan oleh Bapak Prabu Darmayasa berlangsung dengan baik dan lancar. Dengan pengantar dari moderator sebagai stimulus, ratusan peserta acara Dharma Wacana dan Dharma Tula antusias menyimak. Bapak Prabu Darmayasa menjelaskan bahwa setiap BAB di dalam kitab Bhagavad Gita memiliki keagungan masing-masing. Ataupun setiap sloka-sloka yang ada di dalamnya masing-masing mempunyai keagungan. Kemudian inti sari dari Bhagavad Gita adalah terletak pada setiap sloka yang ada di dalamnya. Lebih dispesifikkan lagi oleh Prabu yaitu inti sari Bhagavag gita itu tersirat lebih mendalam pada BAB II tentang Sankhya Yoga pada BAB ke-66 sampai 68. Namun, pada saat mengakhiri wejangannya, Prabu kembali menegaskan bahwa setiap sloka pada Bhagavad Gita merupakan inti sari dari Bhagavad Gita. Prabu juga menyisipkan bahwa rahasia dari ajaran Bhagavad Gita adalah berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
            Diiringi alat musik berupa piano, 400 orang peserta diajarkan melantunkan beberapa Sloka oleh Bapak Prabu Darmayasa. Hal ini memberikan pengalaman yang berharga kepada para peserta. Karena cara melantunkan sloka yang diajarkan sangat mengenakkan dan mudah di ingat. Beliau sengaja membuat sendiri cara melantunkan sloka Bhagavad Gita agar lebih menarik dan para pemuda tertarik untuk mempelajari Bhagavad Gita. Situasi ini mampu membangkitkan antusias peserta untuk lebih bersemangat mengikuti acara, walaupun sudah berlangsung selama 2 jam.
            Semakin lama berjalannya acara peserta Dharma Wacana dan Dharma Tula semakin tertarik dengan pengampaian Prabu yang bervariasi (salah satunya menggunakan cerita dan variasi volume suara). Keantusiasan peserta terlihat dengan banyaknya minat peserta ingin bertanya kepada Narasumber. Pertanyaan dari peserta sangat bervariasi, mulai dari salam “Om Swastyastu”, filsafat, tata susila dan yang lain-lainnya sesuai dengan Kitab Suci. Semua pertanyaan peserta ditanggapi dengan paparan yang jelas. Sehingga peserta merasa puas akan feed back yang diberikan oleh Bapak Prabu Darmayasa.
            Selama tiga setengah jam acara sudah berjalan, namun para peserta masih banyak yang ingin bertanya. Karena waktu sudah larut malam, maka moderator segera mengakhiri acara Dharma Wacana dan Dharma Tula. Sebagai pengujung berakhirnya acara, di sampaikan bahwa sudah sangat wajar sekali di zaman ini para pemuda sudah mempunyai dan mulai membiasakan belajar untuk membaca Kitab Suci. Tidak hanya terbatas pada kalangan pemuda, tetapi semua kalangan hendaknya membiasakan mempelajari dan sudah memiliki kitab suci dirumahnya masing-masing. Dengan demikian, maka diharapkan ada perubahan secara besar-besaran menuju ke arah yang lebih baik dan damai.
Kegiatan Dharma Wacana dan Dharma Tula ini ditutup oleh Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M.Pd. selaku pelindung KMHD YBV Undiksha pada pukul 22.00 Wita. Dilaksanakannya Dharma Wacana dan Dharma Tula ini diharapkan dapat dijadikan sebagai wadah seluruh Civitas Hindu Undiksha untuk memperdalam pemahaman ajaran agamanya sehingga diharapkan akan menjadi pilar penguat dalam membentuk kader-kader Hindu yang religius, humanis, dan progresif.

MEMBANGUN KADER MUDA HINDU YANG MEMILIKI INTELEKTUALITAS, JNANA DAN SRADHA BAKTI DENGAN KENDARAAN PEMBINAAN SEKOLAH



KELUARGA MAHASISWA HINDU DHARMA YOWANA BRAHMA VIDYA UNDIKSHA MASA BAKTI 2012/2013


            Agama merupakan salah satu landasan seseorang untuk berbuat baik. Ajaran agama membelajarkan seseorang selalu bertingkah laku pada rel kebenaran yang sejati. Entah apapun agamanya, yang jelas semua mengarahkan manusia untuk selalu meningkatkan kualitas hidup penganutnya.
            Sebagai organisasi di bidang keagamaan, KMHD YBV Undiksha melirik bahwa ajaran agama merupakan pondasi dasar untuk menanggulangi masalah sosial yang sedang marak terjadi pada saat ini. Seperti kenakalan remaja, pernikahan di bawah umur, sampai maraknya para remaja yang melakukan bunuh diri. Dengan demikian, organisasi KMHD YBV Undiksha yang berbasis agama Hindu melaksanakan kegiatan pembinaan berupa Sekolah Binaan. Pembinaan dilaksanakan kepada siswa Sekolah Dasar yang sedang dirambat oleh awan gelap pengaruh kemrosotan moral.
            Dimulai dari hari Senin tanggal 10 Desember 2012 pembinaan dilaksanakan di SDN 1 Kendran Singaraja. Kegiatan sejenis pesraman ini berlangsung selama empat hari yaitu berakhir pada hari Kamis tanggal 13 Desember 2012. Dengan peserta sebanyak 43 orang siswa yang beragama hindu, kegiatan ini berjalan dengan penuh bekal dan makna yang diberikan kepada siswa maupun panitia.
            Pada hari pertama dilaksanakan acara pembukaan yang diisi dengan acara sambutan dari Kepala Sekolah SDN 1 Kendran dan sambutan Koodinator Penasihat KMHD YBV Undiksha. Beliau berpesan agar kegiatan pembinaan memang benar-benar dijalankan oleh panitia dengan serius, sehingga manfaatnya akan dirasakan oleh siswa dan sekolah sendiri. Setelah itu dilanjutkan dengan acara Dharma Wacana tentang Tri Kaya Parisudha oleh salah satu alumni KMHD YBV Undiksha, yaitu Bapak I Gede Astawan, S.Pd.M.Pd. Beliau membawakan meteri dengan cara bercerita tentang ajaran Tri kaya Parisudha kepada siswa. Sehingga para siswa tertarik dan antusis mengikutinya. Diakhir peyampaiannya Bapak Astawan memberikan penguatan berupa hadiah pulpen kepada siswa yang telah banyak berpartisipasi aktif dan sangat antusias mengikuti Dharma Wacana. Sebelum berakhir acara pada hari pertama pembinaan ini, maka siswa diajarkan metembang. Tembang yang diajarkan oleh Bli Muliarta adalah pupuh pucung. Siswa senang belajar matembang, penuturan dari seorang peserta kelas VI, yaitu Vina, “kami belum pernah diajarkan magending begini dan cara belajar seperti ini yang menyenagkan”. Memang ada perbedaan ketika siswa belajar keseharian di sekolah kegiatan ini. Pada saat pembinaan mereka belajar secara lesehan beralaskan karpet, tanpa menggunakan sepatu. Yang membedakan lagi adalah siswa kelas IV sampai kelas VI yang beragama hindu digabung menjadi satu ruangan.

Pada hari kedua kegiatan pembinaan yang menyasar siswa hindu ini diisi dengan acara pelatihan yoga, game dan pelatihan majejahitan. Pembekalan tentang yoga diberikan oleh Bli Gusti. Beliau menjelaskan yoga sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan ketenangan dalam hidup. Yoga merupakan salah satu jalan untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa. Banyak siswa yang belum bisa mengikuti gerakan Bli Gusti, mungkin karena mereka masih pemula. Sehingga banyak siswa yang bercandaa. Tetapi dengan selingan canda oleh Bli Gusti mereka kembali fokus mengikuti acara. Selesai acara pelatihan yoga diisi dengan game oleh Bli Ngurah. Game yang diberikan adalah bisik berantai, diajarkan yel serta bernyanyi. Siswa direfresh dengan keceriaan yang diberikan oleh Bli ngurah. Sehingga mereka sangat bersemangat untuk mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu pelatihan majejahitan. Ternyata para siswa belum bisa membuat canang dan tipat. Sehingga mereka secara berbarengan diajarkan untuk membuat tipap. Mulai dari yang sederrhana, yaitu tipat taluh dan tipat nasi. Waktu 1 jam untuk pelatihan membuat tipat ternyata tidak cukup, sehingga latihan membuat tipat dilanjutkan pada hari keempat. 

Pada hari ketiga siswa sudah terlihat semakin akrab dengan panitia. Siswa sudah mulai ada perbedaan, mulai dari mengucapkan salam, menghormati panitia, berucap yang sopan dan bersikap yang menyasar sikap yang baik. Hari keempat diisi dengan acara Berwira carita oleh Bli Pande tentang ajaran Pnaca Sradha. Bli Pande menyampaikan dengan caranya sendiri yaitu jika dilihat ada siswa yang bercanda, maka diberikan ganjaran untuk jongkok bangun. Ini merupakan kesepatan dengan siswa, sehingga siswa tidak ada yang merasa takut. Pelatihan pesantian juga dilanjutkan oleh Bli Muliarta, tetapi materi yang diberikan adalah tentang pupuh maskumambang. Peningkatan yang dapat dilihat dari pelatihan pada hari pertama adalah siswa sudh mulai lancar membaca guru ding dong.
Pada hari terakhir kegiatn, yaitu tanggal 13 Desembar 2012, siswa diajarkan dengan Meditasi Anggka oleh Bli Eka. Meditasi ini sangat sederhana sehingga semua peserta mudah mengerti dan bisa melaksanakannya. Banyak pesan yang diberikan oleh Bli Eka ketika mengajakan meditasi. Mulai dari kebiasaan baru bangun pagi sampai kembali tidur pada malam hari, bagaimana berucap, bagaimana cara bersembahyang, bagaimana tata cara makan yang benar, dan banyak lagi lainnya. Siswa merasa sangat tertarik dan antusias mengikutinya, karena hal yang disampaikan Bli eka dialami oleh siswa siswa sendiri. Sebelum acara sekolah binaan ini ditutup maka diisi dengan pelatihan majejahiatan lanjutan dari pelatihan hari kedua. Beberapa siswa terlihat sudah mulai bisa untuk membuat tipat taluh dan tipat nasi, meskipun masih perlu dibimbing.
Di pengujung acara Kepala Sekolah berterima kasih kepada KMHD YBV Undiksha atas bekal yang telah diberikan melalui pelaksanaan kegiataan pembinaan di sekolah SDN 1 Kendran. Beliau juga berharap kegiatan pembinaan ini tidak hanya seklai, tetapi berlanjut untuk dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena kegiatan ini sangat bermanfaat terhadap siswa dan sekolah. Meskipun manfaatnya tidak semuanya secara langsung, tetapi akan memberikan perubahan menuju ke arah yang membaik secara perlahan kedepannya. Disamping itu, harapan KMHD YBV Undiksha dan sekolah kedepannya adalah semoga bekal yang bermanfaat yang diberikan dapat memberikan kemudahan kepada siswa itu sendiri dalam kehidupan. Pada saat berpamitan, KMHD YBV Undiksha memberikan kenang-kenangan kepada sekolah dan siswa. Sebagai tanda bahwa pernah melaksanakan pembinaan di SDN 1 Kendran